Pagi ini aku berjalan pelan, menyisir pematang sawah yang basah oleh air hujan yang mungkin turun semalam. Entahlah, itu adalah dugaan dari seorang pengembara yang mencoba mencari sebuah makna.

Setelah melewati gugusan padi yang telah menguning dan siap untuk dipanen, aku melihat sekelompok orang yang mungkin penduduk setempat. Mereka sedang bergerombol. Nampaknya ada sesuatu yang penting. Terlihat dari gerak mereka yang resah dan raut muka yang gelisah.

Aku melangkah untuk mendekat. Mencoba melihat dan sesaat kemudian aku terperanjat. Pemandangan didepan mata sudah menjelaskan semua. Ada jembatan kayu yang tak sepenuhnya utuh karena hanya setengah jalan yang terhubung oleh balok. Sisanya masih menganga. Aku bertanya, ada apa ini, kepada mereka yang duduk gelisah. Salah seorang dari mereka  menjawab “Kami tak mengerti apa yang diinginkan oleh pemimpin kami. Kami sudah melakukan yang terbaik, tetapi dia tetap merasa kurang baik. Kami lelah dan ingin jeda sejenak”

Oh rupanya mereka rakyat. Lalu dimana pemimpinnya?

Pandanganku menguar ke sekitar. Rupanya diujung sebelah sana duduk terpekur seorang lelaki yang sudah berumur. Aku berteriak “Hai, apakah kau pemimpin dari mereka?” dan diapun menganggukkan kepala, menjawab iya. Aku kembali berteriak “Sebenarnya apa yang terjadi disini?” Dia menjawab dengan lantang “Aku sudah capek memberikan instruksi kepada mereka. Tak ada guna karena mereka hanya mampu mencela”

Hmm,  Aku mengerti sekarang. Mereka rupanya saling merasa benar dengan apa yang telah dilakukan.

Aku menghela nafas pelan. Aku tidak mau banyak kata, takutnya malah memperburuk suasana. Aku hanya ingin berucap melalui pancaran mata, mungkin ini akan lebih indah.

Wahai Rakyat,
untuk apa selalu mencaci jika kita tak pernah unjuk diri
Buat apa bergunjing kalau memang kita nyata berkelakuan miring
Jika kata tak pernah mampu mendobrak dogma lalu mengapa kau harus bersusah payah merubuhkannya dengan teriakan tak bermakna
Jika kau merasa berteriak pun tak mempunyai ruang, kenapa tak kau tunjukkan langkah yang mantap, bukan langkah yang gamang
Jika kau merasa gelisah, resah untuk satu alasan yang tak cukup kata, lalu buat apa kau selalu menebar benci untuk sesuatu yang kau sendiri tak mengerti
Tak baik dengki pada mereka yang kau sangka berbuat keji
Tak elok selalu menghujat jika nyatanya kitalah yang tak bermartabat
Tak pantas tangan menuding kalau memang kita tak layak untuk dibela
Tak perlu melihat keatas walaupun kita merasa pantas
Jangan sesekali menyanjung diri sendiri kalau kau tak pernah mampu untuk berprestasi
Untuk apa selalu menyindir, akan membuatmu nampak seperti seorang pandir

Aku pun berjalan perlahan, bersijingkat melewati sungai dan melawan arus yang deras. Setelah sampai diujung satunya, aku hanya menatap sang pemimpin dengan tatapan dingin. Bukan aku ingin menyalahkan. Bukan pula aku berhak membela. Ini urusan mereka. Aku hanyalah pengembara.

Tetapi hatiku seolah ingin berkata kepada dia, pemimpin yang nampak berwibawa.

Wahai Pemimpin,
Rendah hatilah untuk mendengarkan mereka, rakyatmu, yang selalu bekerja dengan segenap jiwa
Selayaknya kau bangun jembatan untuk mereka, bukan tembok yang berdiri kokoh, agar mereka bisa berbicara dengan leluasa tanpa merasa rikuh.
Jangan pernah ucapkan janji yang memang tak mampu engkau tepati
Janganlah merasakan terancam karena perbedaan bukanlah suatu ancaman melainkan keindahan
Belajarlah pada pelangi, warna warninya mampu menghias angkasa selepas hujan membasahi bumi
Tak pernah akan terbentuk pelangi jika hanya satu warna yang menghiasi
Dan angkasa tak pernah merasa tersaingi karena justru pelangi mampu menghiasi dengan keindahan sejati
Jika kita mampu menyatukan perbedaan yang ada dalam sebuah wadah nyata, semuanya akan bermuara pada satu makna, bekerja dengan segenap jiwa dan cinta
Mari menjadi pemimpin yang bersahaja tetapi penuh ide nyata. Mampu berjalan didepan rakyatmu dengan penuh cinta, ataupun bersisian melangkah tanpa perlu merasa kalah, bahkan berjalan dibelakang mereka, menjaga tidak hanya menggunakan tenaga tetapi juga rasa

Ah, baiklah. Itu urusan mereka. Apalah artinya aku yang hanya seorang pengembara. Sudah saatnya aku kembali melangkah. Melanjutkan pencarianku tentang makna.
Tetapi sebelum pergi, aku ingin berucap walaupun sulit terucap, kepada pemimpin maupun rakyat yang ingin kembali membangun jembatan,  yang bukan hanya sebuah benda. Tetapi membangun kembali kepercayaan agar bisa menjadi penghubung diantara mereka

Wahai Rakyat dan Pemimpin,
Ini tidak mudah kawan
Menyatukan dua jiwa yang tak selalu sejalan
Disetiap pembenaran selalu terjadi kekhilafan, tetapi bukan untuk diulang
Mari kita bergandeng tangan, menyatukan langkah menuju satu tujuan
Saling percaya, saling menerima dan berpikiran terbuka bukanlah hal yang tak biasa juga bukan hal susah
Seharusnya pemimpin  dan rakyat itu dekat, bukan saling berteriak dari kejauhan. Bukan saling berbincang dibelakang. Bukan saling mencaci karena itu bukanlah perbuatan yang terpuji
Tenang saja, kita adalah miniatur dari alam semesta
Lebih luas dari cacian namun lebih besar dari pujian

Kita bisa maju jika kita memang kita mau
Tak perlu banyak kata, tunjukkan dengan karya nyata
Dimulai dari aku, dari kamu dan dari kita semua
Karena hanya dengan bersatu kita bisa 

-Jakarta, 18 Oktober 2011-
Dibacakan di acara Employee Day Darya Varia Group, didepan Dedy Mizwar dan seluruh karyawan


This entry was posted on 4:33 PM and is filed under . You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response, or trackback from your own site.

0 komentar: