Tuan, aku melihatmu terpaku menatap bulir hujan yang perlahan luruh ke tanah aspal didepan kedai kopi. Sudah satu jam berlalu, bahkan kopimu pun sudah mulai membeku. Namun rahang kerasmu tetap termangu menatap rintik air yang menari riang, seolah ingin mengajakmu berdendang.

Tuan, aku duduk disudut ruang, hanya mampu menatapmu bimbang. Tanganku gelisah memainkan cangkir yang tak berisi apa – apa, pun air yang tak berwarna. Menggerakkan kaki dengan irama tak berarah, gelisah. Aku mencoba bertahan hanya untuk sekedar menatap lekuk indah wajahmu, ingin merasakan setiap hembusan hangat nafasmu, walaupun semua hanya dalam imajinasiku karena kita terpisah oleh rindu.

Tuan, biarkan aku menebak apa yang engkau pikirkan. Sebenarnya aku tidak pintar membaca isi kepala, namun aku sudah terlatih meraba isi hati, apalagi hatimu. Berhentilah berpura – pura karena kita tidak lagi di era mereka, gadis berkepang dua dan anak lelaki bercelana pipa,  yang saling menyatakan cinta tanpa berani bertatap mata.

Tuan, jangan mengikat terlalu erat pada masa lalu. Nanti engkau merasa nyaman disitu dan tak mau beranjak menuju awal yang baru.

Tuan, aku bukan ingin menunggu. Aku hanya ingin mempersilahkanmu untuk menghampiriku dan melantunkan semua mimpi yang telah engkau susun dikepalamu. Meracaukan kastil asa yang kau bangun melalui lempengan doa.

Tuan, aku bukanlah cermin yang indah untukmu dan kau bukan pula cermin yang sempurna untukku. Kita hanyalah dua insan yang terperangkap bisu, saling bertumpu pada gerimis waktu.

Tuan, Tuhan tidak akan pernah menangkupkan tangan kita jika kau tidak berusaha untuk menelusupkan jemarimu diantara hangat kepalan tanganku, lalu menggenggam dan membawanya menelusuri ruang hatimu.

Tuan, aku tidak mau banyak bicara ataupun bertanya. Teriring doaku yang selalu menyelimutimu sampai saatnya nanti aku dan kamu bersatu.

Untukmu, yang selalu kusebut dengan, Tuan bersuara merdu.

-Jakarta, 8 Agustus 2011, Jam 3 dini hari. Mati gaya (lagi) ga bisa tidur-


This entry was posted on 2:54 AM and is filed under . You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response, or trackback from your own site.

4 komentar:

    Anonymous said...

    hmm..baguusss... like it..
    Tuan bersuara merdu.. jangan membuat sahabatku ini terlalu lama menunggu ;)

  1. ... on August 8, 2011 at 3:12 PM  
  2. Deny Lestiyorini said...

    aahhh Mama DhiNar *palingkan muka* *maluuu* *besembunyi dibalik bahumu*

    Andaikan Tuan bersuara merdu itu membaca ini ^_^

    Sebenarnya coretan ini buat siapapun, karena aku yakin, banyak yang mempunyai Tuan bersuara merdu

    Thanks Mom *muaachh*

  3. ... on August 8, 2011 at 3:32 PM  
  4. San-33 said...

    gak nyangka....ternyata se puitis ini mba deny yg kesannya jutek (dr luarnya seeeh, tp sbnrnya gak bgt...emank suaranya gede aja...hehe)

    Baguss...! tp gw merasa...takutnya kalau menunggu terus tanpa usaha malah tanpa hasil juga ^^...biarkan si tuan bersuara merdu itu tersentuh hatinya oleh kebaikanmu...putri bersuara menggelegar...wwkwkkw...peace ^^V

  5. ... on September 12, 2011 at 9:29 PM  
  6. Deny Lestiyorini said...

    Nah ini usaha keras banget nget nget hihihihi ampe jumpalitan ... we'll see lah ya San hehehe

    btw, thanks tak hingga ya San buat bantuannya. Tuhan yang akan balas ^_^

  7. ... on September 15, 2011 at 11:05 AM